Meradjoet Sendja, Merawat Cita-Cita tentang Indonesia
Bagi saya, kata “Indonesia” bukan sekadar nama sebuah negara yang setiap hari kita sebut, dan negara yang saya tinggali bersama keluarga saya. Karena dibaliknya ada sejarah panjang, perjuangan, pengorbanan, dan cita-cita besar yang melekat di dalamnya. Hari ini telah 81 tahun Indonesia merdeka, tapi apa kita sudah benar merdeka?
Karena itu, ketika mendapat kesempatan menghadiri Dialog Kebangsaan dan Konferensi Pers Pementasan Teater Meradjoet Sendja, saya merasa seperti diajak berhenti sejenak dari rutinitas untuk kembali bertanya: sebenarnya, seperti apa Indonesia yang kita cita-citakan?
Acara yang digelar di Sasana Budaya “Rumah Kita” Dompet Dhuafa, Jakarta Selatan, Jumat, 26 Agustus 2026 lalu menjadi ruang untuk bertukar pikiran tentang makna kemerdekaan Indonesia yang kini memasuki usia 81 tahun. Bersama PARFI 56 dan Dompet Dhuafa, kegiatan ini mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengenang perjuangan para pendiri bangsa, tetapi juga memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk meneruskan cita-cita mereka, para pejuang kemerdekaan terdahulu.
Buat saya sebagai seorang ibu dan bagian dari masyarakat, pembicaraan seperti ini terasa penting. Karena kemerdekaan bukan hanya tentang sejarah yang kita pelajari di sekolah. Tanggal 17 Agustus bukan hanya dilewati dengan lomba-lomba, upacara bendera, dan acara perayaan biasanya. Tapi kemerdekaan juga tentang bagaimana kita menjalani kehidupan hari ini dan bagaimana kita mempersiapkan masa depan anak-anak kita.
Kembali Mengingat Indonesia sebagai Sebuah Cita-Cita
Dalam Dialog Kebangsaan bertema “Sebuah Cita Bernama Indonesia dan Pancasila sebagai Nilai Dasarnya”, saya kembali diingatkan bahwa Indonesia sejak awal memang lahir dari sebuah cita-cita.
Di acara ini ada Olivia Zalianty, Pak Yudi Latif, Ph.D. dan KGPH Ndaru Kusumo yang berbagi gagasan, dengan Gaib Maruto Sigit sebagai moderator.
Pembahasannya membuat saya berpikir bahwa menjadi bangsa yang merdeka ternyata bukan garis akhir. Justru kemerdekaan adalah jembatan untuk mewujudkan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Dan Pancasila sebagai dasar negara, Pancasila adalah budaya, kekuatan yang teruji dalam kerjasama.
Nilai-nilai Pancasila pun bukan hanya sesuatu yang kita hafalkan ketika sekolah. Di dalam kehidupan sehari-hari, nilai tersebut bisa hadir dalam hal-hal sederhana: menghargai orang lain, bergotong royong, memperhatikan sesama, dan tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri.
Sebagai ibu dengan anak-anak yang sedang bertumbuh, saya sering berpikir bahwa salah satu bentuk perjuangan saya hari ini adalah menanamkan nilai-nilai tersebut di rumah pada anak-anak saya. Mungkin terlihat sederhana, tetapi memang awalnya dari keluarga karakter generasi berikutnya dibentuk.
Ketika Sejarah Dihidupkan Kembali Lewat Teater
Setelah dialog kebangsaan, acara dilanjutkan dengan konferensi pers pementasan teater Meradjoet Sendja: Persembahan Cinta untuk Republik.
Pementasan ini terasa menarik karena bukan sekadar menghadirkan cerita sejarah. Para penonton diajak kembali mendengar pemikiran dan perdebatan para tokoh pendiri bangsa tentang Indonesia.
Cerita terbagi dalam lima babak. Salah satunya menghadirkan sosok Siti Soendari yang mengikuti Kongres Pemuda II dan kemudian belajar menggunakan Bahasa Indonesia hingga berpidato dalam Kongres Perempuan II.
Ada pula dialog antara Soekarno, Hatta, dan Sjahrir tentang Indonesia sebagai sebuah cita-cita. Kisah berlanjut dengan masa pengasingan mereka, hingga perbedaan pandangan mengenai kemerdekaan dan masa depan Indonesia.
Tokoh-tokoh tersebut akan diperankan oleh aktor-aktor seperti Arswendy Bening Swara sebagai Ir. Soekarno, Luthfi Ardiansyah sebagai Mohammad Hatta, Edopaha sebagai Sutan Syahrir, Tantan Ginting sebagai Tan Malaka, serta Marcella Zalianty sebagai Siti Soendari.
Pementasan ini disutradarai Olivia Zalianty, dengan Marcella Zalianty sebagai Executive Producer dan Yudi Latif serta KGPH Ndaru Kusumo sebagai pengarah dan penasihat. Dan karya ini adalah comeback Olivia Zalianty setelah vakum beberapa tahun karena kesibukannya sebagai seorang ibu yang disibukkan mengurus anak.
Yang membuat saya semakin tertarik, pertanyaan besar dari pementasan ini ternyata sangat dekat dengan kehidupan kita sekarang: Apakah di usia 81 tahun, Republik Indonesia sudah menjadi seperti yang dulu dicita-citakan para pejuang bangsa?
Pembaca boleh memberi pendapatnya di kolom komentar 🤗
Mengisi Kemerdekaan dari Hal-Hal yang Bisa Kita Lakukan
Salah satu bagian yang menurut saya penting dari kegiatan ini adalah peluncuran Social Fund PARFI 56 dan Dompet Dhuafa.
PARFI 56 bersama Dompet Dhuafa akan mendonasikan hasil penjualan tiket pementasan untuk Social Fund yang nantinya digunakan membantu masyarakat yang membutuhkan, terutama para pekerja seni yang membutuhkan.
Saya melihat ini sebagai contoh bahwa mengisi kemerdekaan tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kita bisa berkontribusi sesuai dengan kemampuan masing-masing, seperti membeli tiket untuk menonton pementasan teater orkestra ini, untuk info lebih lanjut tiket bisa cek info lengkapnya di instagram Dompet Dhuafa ya.
Dan sebagai ibu dan content creator freelance mungkin kontribusi saya tidak sama dengan seorang seniman, akademisi, atau aktivis sosial. Tetapi saya percaya setiap orang memiliki kesempatan dan cara untuk berbuat sesuatu.
Bisa dengan berbagi informasi yang bermanfaat, membantu sesama, mengajarkan anak-anak untuk peduli, mendukung karya seni Indonesia, atau ikut dalam kegiatan sosial.
Karena pada akhirnya, Indonesia bukan hanya milik mereka yang namanya tercatat dalam buku sejarah. Indonesia adalah milik kita semua.
Dan mungkin saja inilah maksud dari Meradjoet Sendja yang saya rasakan dari kegiatan ini. Ketika usia Republik terus bertambah, kita tidak hanya perlu melihat ke belakang dan mengagumi perjuangan para pendiri bangsa. Kita juga perlu melihat ke depan dan bertanya kepada diri sendiri: apa yang sudah saya lakukan untuk Indonesia?
Buat saya, kemerdekaan adalah proses yang terus dirawat. Dimulai dari rumah, dari keluarga, dari cara kita memperlakukan orang lain, dan dari keberanian untuk tetap peduli.
Semoga melalui seni, dialog, dan aksi sosial seperti ini, kita tidak hanya mengenang cita-cita Indonesia, tetapi juga ikut merajutnya menjadi kenyataan.




Komentar
Posting Komentar